facebook instagram twitter

Keluarga Besar Balai Karantina Pertanian Kelas II Yogyakarta mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H Minal Aidin wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin ******* PAKTA INTEGRITAS : Kami tidak mengijinkan sedikitpun (zero tolerance) segala bentuk gratifikasi (pemberian) dalam bentuk uang, barang, hadiah, janji, fasilitas dan keuntungan lain dalam rangka pelaksanaan pelayanan karantina pertanian
Indonesian English

8p

https://www.cdc.gov/tularemia/images/TularemiaHome.jpg

Tularemia adalah penyakit pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh bakteri Francisella tularensis,  yang bersifat gram negatif, non motil, pleomorphic coccobacillus. Bakteri ini sangat virulen  pada manusia serta kelinci dan sejenisnya. Penyakit ini merupakan zoonosis yang berbahaya, karena dapat dijadikan sebagai senjata biologis. Vektor utamanya adalah kutu dan lalat rusa.

Manusia dapat terinfeksi melalui gigitan kutu dan lalat rusa, kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, konsumsi air yang terkontaminasi, paparan laboratorium, menghisap debu atau aerosol yang terkontaminasi.

                Di Indonesia sampai saat ini belum di umumkan adanya penyakit tularemia.Untuk itu perlu kewaspadaan penuh terhadap lalu lintas masuknya hewan eksotis terutama agen penyebab penyakit ini dari negara tertular.Tidak menutup kemungkinan dengan semakin banyaknya orang yang hobi memelihara hewan kesayangan seperti kelinci, tikus maka semakin mudahlah penyakit ini menyebar di Indonesia.

Gejala Klinis

Tanda-tanda dan gejala tularemia bervariasi tergantung pada bagaimana bakteri masuk ke dalam tubuh. Dari yang ringan sampai yang mengancam jiwa,semua disertai dengan gejala demam. Suhu dapat setinggi 104 ° F. Bentuk utama dari penyakit ini adalah sebagai berikut:

  • Ulceroglandular.

Gejala ini adalah bentuk paling umum dari tularemia dan biasanya terjadi setelah  gigitan caplak. Ulkus terjadi di kulit tempat masuknya caplak tersebut. Ulkus disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening regional, biasanya di ketiak atau pangkal paha.Umumnya juga diperoleh melalui gigitan kutu atau caplak yang terinfeksi atau dari penularan hewan yang sakit atau mati.

  • Oculoglandular.

Gejala ini terjadi ketika bakteri masuk melalui mata. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang menyembelih hewan yang terinfeksi dan menyentuh matanya. Gejala termasuk iritasi dan radang mata dan pembengkakan kelenjar getah bening di depan telinga.

  • Orofaringeal.

Gejala ini hasil dari makan atau minum makanan atau air yang terkontaminasi. Pasien dengan tularemia orophyangeal mungkin memiliki sakit tenggorokan, sariawan, radang amandel, dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher.

  • Pneumonia

Ini adalah bentuk paling serius dari tularemia. Gejalanya meliputi batuk, nyeri dada, dan kesulitan bernapas. gejala ini dikarenakan menghirup debu atau aerosol yang mengandung organisme. Gejala ini juga dapat terjadi dalam bentuk lain misalnya ulceroglandular yang tidak diobati dan bakteri menyebar melalui aliran darah ke paru-paru (CDC 2011).

    

      

     

    

       

Go to top